26.1 C
Kuala Lumpur
Sunday, February 5, 2023
spot_img

Kisah Orientalis Hungaria Bermimpi Bertemu Nabi SAW Dibacakan Surat An-Naba’ Ayat 6-9

loading…

Profesor Doktor Haji Abdul-Karim Germanus (1884-1979), begitu namanya setelah ia memeluk Islam. Sebelumnya bernama Julius Germanus. Ia adalah seorang ahli Ketimuran atau orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia. Sebelum menjadi muslim, ia mengaku mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan dibacakan QS An-Naba’ 6-9.

Perjalanan spiritual Germanus mencari Islam menyita hampir separuh perjalanan hidupnya. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mempertahankan Islam dan bahasa Arab. Selepas melewati masa-masa sulit semasa remaja dan lepas dari belenggu tradisi, dia kemudian tertarik untuk mempelajari Islam.

Germanus menggambarkan kisah keislamannya itu sebagai “bangunnya sebuah kehidupan baru.” Disebutkan, awal perkenalannya dengan Islam adalah di Turki pada saat menjadi mahasiswa di sana.

Kemudian, dia pergi ke India untuk mengajar di sana, pada masa Perang Dunia I. Dan di negeri Bollywood itulah dia mengucapkan dua kalimah syahadah. Selepas bertugas di India Germanus kembali ke Hungaria dan diangkat sebagai profesor di sana. Dia sering beradu argumentasi dengan para profesor dan orientalis Hungaria, terutama tentang kebenaran Islam.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi

Ahli BahasaGermanus adalah seorang ahli bahasa-bahasa dan menguasai bahasa Turki serta kesusastraannya. Melalui penyelidikan-penyelidikan ketimurannya itulah beliau akhirnya memeluk agama Islam.

Pada waktu ini, Dr Haji Abdul Karim Germanus bekerja sebagai Profesor dan Kepala Bagian Ketimuran dan ilmu-ilmu ke-Islaman pada Budapest University, Hongaria.

Berikut penuturuan Haji Abdul Karim Germanus tentang perjumpaan dirinya yang pertama dengan kaum Muslimin, lalu bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, dan sampai ia akhirnya menjadi muslim. Penuturan tersebut dinukil dalam buku berjudul “Mengapa Kami Memilih Islam” oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah setelah diterjemahkan Bachtiar Affandie(PT Alma’arif, 1981).

Sore itu hari turun hujan, usia saya menjelang akil balig ketika saya membalik-balik lembaran-lembaran majalah bergambar terbitan lama. Isinya campuran antara kejadian-kejadian baru, cerita-cerita fiktif dan keterangan tentang beberapa negeri yang jauh-jauh.

Saya terus membolak-balik halaman demi halaman tanpa perhatian. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah gambar ukiran kayu berbentuk rumah-rumah beratap datar, dan di sana-sini diselang-seling dengan kubah-kubah bundar menyulang ke langit yang gelap-gulita, di mana secercah cahaya bulan sabit nampak dengan indahnya.

Di atas salah satu atap itu kelihatan beberapa orang duduk dalam barisan-barisan yang teratur, mengenakan pakaian yang indah-indah coraknya.

Gambar itu telah menangkap daya khayal saya, karena keadaannya berbeda dengan yang biasa kita lihat di Eropa, sebuah pemandangan di tanah Timur, di sebuah tempat di negeri Arab yang menggambarkan seseorang yang sedang menceritakan beberapa hikayat yang menarik bagi sekumpulan pendengar yang mengenakan jubah berkerudung.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam

Gambar itu seakan-akan berbicara, hingga saya seakan-akan mendengar suara seorang laki-laki yang menghibur diri saya dengan ceritanya, dan saya seakan-akan termasuk salah seorang Arab yang mendengarkannya di atas bangunan itu.

Pada hal saya ini seorang pelajar yang belum melebihi umur 16 tahun dan sedang duduk di atas kursi di Hungaria. Kemudian saya merasa sangat berhasrat untuk mengetahui arti itu cahaya yang memecah kegelapan di atas papan ukiran itu.

Mulailah saya belajar bahasa Turki. Akan tetapi segeralah ternyata bahwa bahasa Turki tertulis itu hanya mencakup sedikit kata-kata Turki. Puisi (sya’ir) Turki penuh dengan bunga-bunga bahasa Persi, sedangkan prosesnya terdiri dari elemen-elemen bahasa Arab. Oleh karena itu, saya berusaha memahami ketiga bahasa ini, sehingga saya mampu menyelami dunia kerohanian yang telah memancarkan cahaya yang gemerlapan di atas persada alam kemanusiaan.

Pada waktu liburan musim panas, saya pergi ke Bosnia, suatu negeri Timur yang terdekat dari negeri saya. Saya tinggal di sebuah hotel, dari mana saya dapat segera pergi untuk menyaksikan kenyataan hidup kaum Muslimin di sana. Akan bahasa Turki mereka telah menyulitkan saya, karena saya mulai mengetahuinya dari celah-celah tulisan Arab dalam kitab-kitab ilmu Nahwu (Grammar).

Pada suatu malam, saya turun ke jalan-jalan yang diterangi lampu remang-remang. Segera saya sampai di sebuah warung kopi sederhana, di mana dua orang pribumi sedang duduk-duduk di kursi yang agak tinggi sambil memegang kayf.

Kedua orang itu mengenakan celana adat yang lebar dan di tengahnya diikat dengan sebuah sabuk lebar yang diselipi sebuah golok, sehingga dengan pakaian yang aneh semacam itu mereka nampaknya galak dan kasar.

Dengan hati yang berdebar-debar saya masuk ke dalam “kahwekhame” itu dan duduk bersandar di sebuah sudut. Kedua orang itu melihat saya dengan pandangan yang aneh. Ketika itu teringatlah saya kepada cerita-cerita pertumpahan darah yang saya baca dalam buku-buku yang tidak benar tentang kefanatikan kaum Muslimin.

Sumber: kalam.sindonews.com

PERHATIAN: Kami tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui platform ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -spot_img

Tentang Blog

TRENDING LAGI