28.2 C
Kuala Lumpur
Tuesday, February 7, 2023
spot_img

Kupas Tuntas Hukum Puasa Rajab, Berikut 2 Pendapat Ulama Mazhab

loading…

Hari ini kita sudah memasuki bulan Rajab 1444 Hijriyah, Senin (23/1/2023). Banyak di antara umat muslim berpuasa mengingat bulan ini salah satu bulan-bulan haram yang diagungkan Allah.

Muncul pertanyaan, bagaimana hukum mengkhususkan puasa di hari tertentu pada bulan Rajab? Berikut penjelasan Pengasuh Ma’had Subuluna Bontang Kalimantan Timur, KH Ahmad Syahrin Thoriq dalam satu kajiannya.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan ulama lainnya berpendapat hal tersebut ada kesunnahannya. Berikut penjelasan masing-masing dari dua kubu yang berbeda:

1. Kalangan yang Berpendapat Tidak DisunnahkanPara ulama dari Mazhab Hanabilah, sebagian Hanafiyyah dan juga sebagian Syafi’iyyah berpendapat bahwa puasa bulan Rajab tidak disunnahkan. Mereka berpendapat bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang puasa di bulan Rajab adalah sangat lemah dan sebagiannya bahkan palsu sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Bahkan kalangan Hanabilah membawakan riwayat yang menyebutkan adanya larangan untuk berpuasa di bulan Rajab, yakni riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ melarang berpuasa di bulan Rajab.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ‌نَهَى ‌عَنْ ‌صِيَامِ ‌رَجَبٍ

“Nabi ﷺ melarang dari berpuasa Rajab.” (HR Ibnu Majah)

Hadis ini ada dalam Sunan Ibnu Majah (1/554), dan Ibnu Bushiri mengatakan bahwa hadits ini lemah karena dalam rawinya ada Dawud bin Atha’. Beliau berkata dalam kitabnya Misbahul Zujajah (1/307): “Dia disepakati kelemahannnya.”

Dalil selanjutnya adanya riwayat bahwa dua khalifah Rasulillah melarang orang-orang yang memperbanyak puasa di bulan Rajab. Disebutkan bahwa Sayyidina Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menemui keluarganya dan melihat mereka membeli cangkir-cangkir minum, dan bersiap-siap untuk puasa, beliau berkata, “Apa ini?” Mereka menjawab: “Rajab.”

Abu Bakr berkata: “Apa kalian hendak menyerupakannya dengan Ramadhan? Lalu ia memecahkan cangkir-cangkir tersebut.” [Majmu’ Fatawa (25/290)]. Demikian juga adanya riwayat Sayyidina Umar yang memukul tangan orang-orang yang mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa. [Ada’u ma Wajab Hal 57]

Berikut beberapa fatwa ulama dari kelompok yang mendukung pendapat pertama ini:

Ibnu Muflih berkata: “Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa.” [Al-Furu’ (3/118)]

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani berkata: “Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah puasa bulan Rajab, keutamaan puasanya dan amalan tertentu di dalamnya seperti shalat malam.” [Tabayyun al Ujb fi Fadhail Rajab Hal 23]

Ibnu Qudamah berkata: “Dibenci mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa. Imam Ahmad berkata bahwa kalau mau seseorang berpuasa sehari dan tidak puasa sehari tetapi jangan puasa sebulan.” [Al-Mughni (3/53)]

Imam Al-Mardawi berkata: “Mengkhususkan puasa Rajab hukumnya adalah makruh. Inilah pendapat mazhab (Hanabilah) dan para pendukungnya.” [Al-Inshaf (3/346)]

2. Kalangan yang Berpendapat DisunnahkanSedangkan kalangan yang berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya adalah sunnah adalah ulama dari Mazhab Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebagian dari Mazhab Hanafiyyah. [Asna Al-Mathalib (1/433), Fatawa Al Kubra Al-Fiqhiyyah (2/53), Mughni al Muhtaj (2/187), Nihayah al-Muhtaj]

Mereka bependapat, meskipun hadits-hadits yang berbicara tentang fadhilah puasa Rajab lemah semuanya, namun ada dalil umum yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan memperbanyak puasa di bulan Haram, sedangkan Rajab adalah termasuk salah satu dari bulan haram.

Sehingga, hadits lemah yang berbicara tentang Rajab berfungsi sebagai fadhilah A’mal. Demikian juga dalil sahih lainnya adalah riwayat dari Utsman bin Hakim al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Said bin Jubair tentang puasa Rajab, saat itu kami sedang berada di bulan Rajab.

Lalu beliau menjawab: “Aku pernah mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

Sumber: kalam.sindonews.com

PERHATIAN: Kami tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui platform ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -spot_img

Tentang Blog

TRENDING LAGI